Pengantar Pameran Kartun BCF2

Anomalistik, Estetik, Nakal dan Elegan

Kartun: Igor Smirnov, Rusia

Oleh Darminto M Sudarmo

Gawe untuk bikin pameran kartun ini bahkan di awal keberangkatan Borobudur Cartoonist Forum 2 (BCF2) belum teragendakan panitia. Entah karena takdir, atau desakan keadaan, akhirnya jadi juga. Jumlah peserta pameran sedikitnya 22-23 Negara peserta dengan jumlah kartunis sedikitnya 90 orang dan jumlah kartun yang masuk 250 lebih.

Menikmati kartun, khususnya gag cartoon,  juga memerlukan wawasan penikmatnya yang memadai agar nyambung dengan gagasan kartunis yang tertuang dalam karya. Kartun, meski hanya satu kotak (ada yang beberapa kotak), dapat berkomunikasi secara tuntas dan paripurna. Dapat bercerita layaknya sebuah fragmen. Bisa membuat penikmatnya tertawa, tersenyum, terpengarah, jengkel atau bahkan merenung bak seorang filsuf.

Kartun bagus, pasti ada isinya. Isi itu yang membuat penonton tersenyum, ketawa, kesal atau bahkan berpikir. Dari mana isi itu datang? Isi itu diperoleh kartunis dari sejumlah pencarian. Segunung perenungan. Dari membaca: buku, koran, majalah, medsos, kitab penting, kitab omong kosong, bahkan hingga kitab apa saja. Dari membaca dan melihat keadaan sekitar, lingkungan rumah, lingkungan kerja, pusat belanja, bahkan semua yang ada di jagad raya ini dapat mempengaruhi atau menginspirasi lahirnya gagasan seorang kartunis.

Penonton yang pinter, dari sekilas melihat tampilan sebuah kartun, langsung tahu berapa persen keahlian menggambar kartunisnya, berapa persen kedalaman ilmunya, dan berapa persen kompetensi ngedannya. Orang suka salah menilai, yang dianggap lucu itu sehari-harinya pasti sering tampil slengekan dan bikin gerrr bagi lingkungan, atau teman-temannya. Untuk profesi lain: makelar, penghubung, mungkin benar. Tapi untuk kartunis, apalagi pelawak, lucu tidak begitu maknanya. Kartunis lucu adalah kartunis yang memiliki kompetensi berpikir secara beda. Dengan begitu ia selalu bisa melahirkan ide-ide baru dan menarik perhatian.

Membuat kartun bagus tidak sembarang orang bisa. Begitu juga menikmati kartun bagus, tidak sembarang orang bisa. Semua terkait dengan nalar dan kecerdasan. Terkait dengan kekayaan wawasan dan pengetahuan. Jadi kalau seni lukis bermainnya di wilayah estetika, maka seni kartun lebih banyak di wilayah logika.

Peserta Lintas Negara

Gawe ini sebenarnya hanya sekelas eksibisi, bukan kontes atau lomba. Namun di luar dugaan, minat peserta, baik dari dalam maupun dari luar negeri sangat besar. Banyak kartun kelas lomba dengan gagasan unik dan menarik diikutsertakan kartunisnya dalam ajang eksibisi kali ini. Seperti disebut di atas, setidaknya ada 22-23 negara yang ikut ambil bagian dalam event lintas negara kali ini.

Seperti dijanjikan dalam pengumuman, Tim Rahasia akan memilih tiga kartun terbaik (versi tim tersebut) untuk diberi alakadar penghargaan. Semua sudah terlaksana dan dapat dilihat dalam daftar peserta eksibisi di halaman terkait.

Dari Mana Datangnya Lucu?

Lucu itu banyak muncul dari peristiwa-peristiwa anomalistik. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas kertas adalah hasil kreasi para kartunis sebagai ekspresi gagasannya. Sekadar contoh adegan: sebuah perahu dengan sembilan penumpang, delapan penumpang pegang toa dan memberi perintah, hanya satu orang yang menggerakkan dayung. Itu kritik sosial yang dikaitkan dengan mentalitas suatu bangsa.

Dalam kartun lelucon (gag cartoon), ternyata peluang untuk menentukan tema, topik atau pilihan-pilihan persoalan begitu luas terbentang. Peminat gaya surealisme (Igor Smirnov, Rusia), akan menekuni gaya tersebut hingga ke anatomi bahkan pori-pori persoalan setuntas-tuntasnya. Peminat gaya satire (Makhmudjon Eshonkulov, Uzbekistan), misalnya, juga terlihat konsisten pada pilihannya tersebut. Ia mungkin akan tampak “sinis” sepanjang masa; tetapi tanpa konsistensi dan pendalaman, mana mungkin orang akan mengenal predikat khas yang melekat padanya?

Cara bidik yang estetik juga diperlihatkan dengan cantik oleh Silvano Mello, Brazil dan Hou Xiaoqiang, China lewat aksen mereka masing-masing. Terutama dalam merespon pancingan persoalan sekitar wacana Abad Visual. Mello memperlihatkan adegan orang purba yang hidup di goa-goa bersama anaknya tampak sedang melukis binatang: rusa, kuda, gajah sementara si anak justru sedang asyik melukis sinyal-sinyal dan simbol zaman now. Sangat menggelitik. Begitu juga Hou Xiaoqiang, menampilkan adegan orang terbaring di dalam peti mati dengan tutup peti layaknya gawai raksasa dalam keadaan aktif. Edan memang!

Di lain persoalan, karena semua data sudah dapat didigitalkan, praktis dan mudah, maka perpustakaan jadul sudah tidak diperlukan lagi. Buku-buku bisa dibakar untuk penghangat ruangan. Boedy Hp, Indonesia, menyentakkan kita semua dengan gagasannya yang tak terduga itu.

Selamat menikmati pamerannya. Semoga anda semua menderita kebahagiaan.

Darminto M Sudarmo, Kurator Pameran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *