Borobudur, Strategi Budaya, dan Abad Visual

Kartun: Soeprie Ketjil

Oleh Erros Djarot

 

Kita hidup di Abad Visual, tidak bisa lepas dari teknologi komunikasi yang serba-visual, seperti smart-phone, televisi, tablet, serta alat elektronik lainnya. Informasi yang kita dapat, kegiatan, selera, pilihan, termasuk mood emosi kita dipengaruhi oleh informasi dan visual yang datang melalui gadget yang selalu menyertai kita.

 

Bagi sebagian manusia yang gemar ber-media sosial, info-visual bukan cuma  diterima, namun juga dikirimkan. Setiap gerak kita rekam kemudian kita bagikan, dari bangun pagi, sarapan, hingga malam. Gambar, meme, foto, atau video kini menjadi medium baru percakapan. Manusia secara alamiah adalah mahluk visual. Kerja otak manusia lebih dari  30% didedikasikan untuk memproses hal-hal visual, sekitar 8% untuk indera sentuhan, dan hanya 3% untuk pendengaran. 

 

Beragam platform dan aplikasi media sosial memanjakan kita dalam memproduksi atau mengkonsumsi pesan atau seni visual. Situs seperti Instagram, Pinterest atau SnapChat semakin menempatkan gambar, foto, atau video sebagai bahasa universal. Manusia tidak peduli di manapun keberadaannya, apapun kebangsaan dan bahasanya dengan mudah bisa menikmati keindahan visual atau kedalaman pesan.

 

Ada hampir 4 milyar smart-phone berkamera di bumi yang berpopulasi 7 milyar.  Membuat, mengambil, dan berbagi visual kini menjadi semacam ritual rutin, khususnya di kalangan generasi milenial. Begitu mudah, murah, dan meriah dengan teknologi digital. Gambar dan visual kini menjadi bagian penting dari hidup keseharian. Informasi dan komunikasi menjadi hambar jika hanya dengan lisan atau teks, tanpa visual. Visual kini makin menjadi esensial, bukan cuma optional.

 

Tentu saja, karena visual adalah bahasa universal. Orang dari bangsa yang berbeda boleh tidak paham  bahasa lisan, tulisan, atau teks cetak, namun visual sebagai bahasa gambar pasti jauh lebih mudah dipahami. Dalam konteks ini adagium lama “A picture Is worth a thousand words,” satu gambar bermakna seribu kata-kata, menunjukkan relevansi kebenarannya.

 

Gambar dan visual seringkali lebih mampu mengekspresikan informasi atau mengkomunikasikan pemikiran yang kerap sulit disampaikan dalam ujaran verbal atau melalui tulisan. Lukisan Picasso Guernica, film Steven Spielberg Schindler’s List, selembar foto, ilustrasi atau coretan kartun anti-perang, jauh lebih bertenaga dalam memaknai kepedihan perang, misalnya, ketimbang beratus-ratus lembar laporan atau paparan melalui tulisan.

 

Visual jauh lebih optimal sebagai sarana untuk mengurai ide, menyampaikan gagasan,  dan mengkomunikasikan pemikiran. Visual lebih mengajak orang untuk berpikir, membuka interpretasi, dan memantik tafsir. Tidak ada pesan tunggal dalam bahasa gambar, juga tidak ada hegemoni makna dalam pesan visual.

 

Itu sebabnya, sebagaimana karakter seni rupa dan seni visual lainnya, seni kartun menjadi istimewa dalam hal mampu menyampaikan pesan yang memperkaya makna, tafsir, dan  interpretasi. Intinya, mengajak manusia berpikir lebih kontemplatif. Pesan melalui gambar kartun menuntut penerima pesan untuk tidak bersikap verbal, apalagi banal.

 

Di satu sisi, sebagai seni visual, kartun mampu menyajikan fakta sosial-ekonomi-politik-dan budaya yang sepertinya rumit menjadi lebih simpel. Kartun mampu menyorot tragedi menjadi komedi, memotret kondisi muram dengan jenaka. Di balik kejenakaannya, kartun juga mengajak kita untuk berpikir dan merenung. Memacu manusia agar berpikir reflektif, kontemplatif,  dan juga kreatiif dalam melihat dan mengatasi persoalan. 

 

Di sisi lain, pesan visual kartun bisa sebagai antitesis, bagi sejumlah sisi negatif era digital, seperti gaya hidup serba-instan, minat baca rendah, diskonektivitas sosial, dan lainnya. Dengan kejenakaan dan keindahan, kartun menginspirasi dan mengajak masyarakat untuk komit terhadap nilai-nilai sosial, politik, dan budaya.

 

Dalam konteks itu, kartun  berperan penting dalam paradigma perumusan strategi kebudayaan untuk membangun manusia yang lebih beradab dan berbudaya. Strategi kebudayaan adalah cara manusia mengekspresikan diri dan upaya manusia merangkai relasi dengan dunia yang cepat berubah. 

 

Strategi kebudayaan bukan sekadar menyusun kebijakan atau membuat perencanaan, namun upaya untuk menang dalam persaingan global. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam, juga warisan kejayaan peradaban, salah satunya adalah Candi Borobudur. Bagaimana memenangkan kawasan Borobudur menjadi destinasi wisata dan pusat pembelajaran kelas dunia, mempromosikannya melalui seni kartun, misalnya, adalah salah satu isu strategis yang menarik untuk didiskusikan.

 

Borobudur memiliki 1.460 panil relief yang mengisahkan cerita. Relief yang terpahat di candi Borobudur, bukan kebetulan, jika bernuansa kartunal. Panil-panil relief itu mengingatkan kita pada kotak-kotak cerita bergambar atau komik tiga dimensi, dan profil manusia dan hewan yang terpahat juga mengingatkan pada coretan karakter kartun.

 

Lebih dari itu, kisah yang diceritakan dalam pahatan relief Borobudur memiliki makna yang sangat dalam dalam menyangkut evolusi spiritualitas manusia. Borobudur adalah salah satu simbol keluhuran kebudayaan Indonesia yang sudah selayaknya selalu menjadi inspirasi untuk manusia Indonesia yang lebih kreatif, inovatif, dan berbudaya.

Erros Djarot, Budayawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *