KARTUN Berbeda dengan POSTER dan ILUSTRASI

Alexander DUBOVSKY – Ukraine

Sekali lagi

KARTUN Berbeda dengan POSTER dan ILUSTRASI

Apa itu kartun? Sebuah karya grafis (lukis/rupa) yang di dalamnya memuat sebuah kisah (pendek tapi tuntas). Di dalam kisah itu ada nilai (semacam konflik atau agresi, atau sentilan, atau ledekan, bahkan satire) yang ujungnya (setelah disimpulkan pembacanya) bisa membuat si pembaca tertawa, tersenyum, atau cukup tergelitik rasa perasaan intelektualnya. Tema bisa apa saja. Tentang air, api, tanah, angin, sekolah, remaja, orang tua, kendaraan, kesenjangan, politik, ekonomi, budaya, penderitaan, kebahagiaan dst dst. Seluruh fakta dan instrumen kehidupan. Juga seluruh ungkapan perasaan manusia: sedih, gembira, jengkel, malu, bangga dan sebagainya.

Contoh kartun: seekor babi yang tertabrak mobil. Ini kartun standar, yang secara elementer memenuhi asas komunikasi: gambar dapat dipahami, bahkan oleh orang seluruh dunia, bahwa adegan sebelah kiri seekor babi dan sebelah kanan mobil dan pengendaranya. Komunikasi gambar yang gagal jika sebagian orang menyebut obyek sebelah kiri babi, beruang, kerbau dan sebagainya, secara berbeda-beda.

Kisah kartun ini, kendati pendek tapi rampung, menceritakan seekor babi yang tertabrak mobil yang dikendarai seorang manusia. Kalau gambar hanya berhenti di sini, maka gambar tersebut akan selesai dan disebut ILUSTRASI; karena hanya menggambarkan babi tertabrak mobil dan keduanya, baik si babi maupun si pengendara sama-sama mati.

Dan gambar juga akan selesai dan disebut POSTER, kalau adegan gambar bawah (saja) itu diberi tulisan: Kurangi Kecepatan – Jalan Berbahaya. Atau: Hati-hati – Banyak Hewan Melintas! Poster itu intinya sebuah informasi: bisa berupa perintah (ajakan), bisa pula berupa larangan. Selesai, hanya di situ peran dan fungsinya.

Lha, KARTUN berbeda. Di dalam karya kartun ada sebuah visi dan misi: terutamanya adalah ajakan untuk MERENUNG. Sesuatu yang mengajak pembacanya untuk berpikir. Bisa tentang nilai, tentang etika, tentang kemanusiaan, tentang kebenaran dan tentang ketidakbenaran, tentang apa saja yang muaranya menyadarkan pembaca pada sifat dasar manusia: kebaikan.

Tentu ada saja kartun yang dipolitisasi dan dimanipulasi dengan isian-isian yang menyesatkan, merusak dan membuat cemar figur yang dijadikan obyek. Kembali ke visi dan misi awal, kartun adalah sebuah media ekspresi (komunikasi), seperti halnya pisau, di tangan manusia, ia bisa digunakan untuk mengupas dan mengiris buah sehingga bermanfaat; bisa pula untuk membunuh dan memutilasi korban sehingga jahat dan menakutkan.

Konflik atau agresi, atau sentilan, atau ledekan, bahkan satire makin mengerucut setelah pembaca menyimak gambar bagian atas – adegan sukma atau proyeksi ruh – yang ternyata sangat kontras: bahwa sosok babi itu ternyata memiliki kualitas yang berkebalikan dengan badan wadagnya; dan begitu pula si manusia. Di sini ajakan untuk merenung dan memikirkan pesan tersirat yang termuat dalam kartun tersebut mulai bekerja.

Demikian, semoga pemahaman tentang kartun tidak dikisruhkan dengan poster dan ilustrasi. Happy weekend!

  • Darminto M Sudarmo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *